Mengalir sajalah…

Banyolan malam

Berjalan di keramaian
Pikiran jalan terus dan orang lalu lalang
Berpesta pora dengan duniawi
Baju bermerek, paras menawan dengan bedak yg tebal, lipstick merah mempesona..
Berlomba-lomba menjadi pusat perhatian kaum adam..
Rela membuang banyak uangnya untuk kepentingan dunianya..
Tak pula teknologi yang membuat kita semakin buta akan dunia nyata..
Miris dan takut melihat merek mahal dimana-mana.. Dari mulai baju, sepatu, tas, perhiasan, dan alat-alat kecantikan.. Para wanita berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dari yg terbaik.. Harga mahal dan kualitas terbaik.. Semua hal itu mengajakku untuk setara dengan yang lainnya.. Aku sempat takut..
Apakah aku harus seperti itu?

Merenung dan berpikir..

Diperjalanan pulang mengajar, Skitar pukul 7 malam.. Cuaca lembab karena hujan baru saja berhenti..
Jalanan saat itu macet sekali..
Motor yg saya kendarai hanya bisa maju sedikit kemudian berhenti lagi..

Karena dasarnya otak ini tidak lelahnya berpikir, timbullah pertanyaan.. “Apakah semua orang harus seperti ini?macet-macetan untuk bisa kerja dan bisa hidup?”

Aku bisa tiba-tiba berpikir.. Gaji mereka tiap bulan berapa, biaya makan mereka perhari berapa, bagaimana dengan biaya bensin yang sudah naik, belum lagi jika punya keluarga, harus menghidupi orang lain..
Mereka harus menghadapi macet setiap harinya.. Mencari uang menjadi bagian yg membuat mereka tertekan.. Pergi pagi macet, pulang malem macet.. Begitu terus setiap harinya.. Uang gaji hanya bisa untuk makan perharinya.. Jadi apabila di simpulkan mungkin seperti ini:
kerja-uang-makan-kerja-uang-makan
begitu terus..
Nabung? Nah belum yang mikirnya mau nabung untuk menikah, punya rumah pribadi, punya kendaraan pribadi.. Kebutuhan semakin banyaaak.. Hidup semakin tertekan.. Bukan hal yang bahagia lagi mencari uang untuk keluarga, anaak, istri, orang tua.. karena tertekan.. Berpengaruhlah menjadi karakter tiap-tiap orang di Jakarta.. Keras, individual, dan cuek.. Yang sebenarnya budaya kita tidak seperti itu.. Kita menjadi budak kapitalis.. Ya itu benar.. Diputar terus seperti itu..
Yang kaya menjadi semakin kaya, yang miskin menjadi semakin miskin..
Motor kredit sudah dimana-mana.. Mobilpun begitu.. Tidak heran Jakarta menjadi macet, global warming, banjir..

Miris dan takut..
Kita seperti diarahkan oleh kehidupan bukan kita yang mengarahkan kehidupan kita..
Sudah susah ingin bebas dan bisa menjadi diri sendiri..
Semua berujung dengan materi lagi materi lagii…

Advertisements

One response

  1. Hidup penuh dengan tanggung jawab.
    Semakin keras dengan hidup, maka dunia akan melembut.
    Tapi semakin lemah atau lembeknya kita dengan hidup, maka dunia akan terasa semakin kejam.

    July 15, 2015 at 4:08 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s