Mengalir sajalah…

Memanusiakan manusia

Berevolusinya zaman yang serba canggih dengan banyaknya teknologi yang berkembang membuat kita manusia melakukan banyak hal dengan instan seperti membuat mie goreng “siap saji”. Kadang saya sebagai manusia jadi menggampangkan sesuatu karena teknologi sangat membantu. Akhirnya akibat dari itu semua muncul kata “malas” karena saya berpikir “mudah”.

Saya menganalogikan seperti seorang lelaki mendapatkan seorang wanita dengan mudah. Setelah itu muncul kata bosan karena lelaki itu merasa sangat mudah mendapatkannya, tidak ada lagi perjuangan yang sulit dan berharganya sesuatu dalam mempertahankannya. Karena hal yang mudah akan timbul bosan, jenuh, malas, gampang, dll.

Tetapi balik lagi bagaimana kita manusia memanfaatkan itu dengan baik. Yaitu teknologi.

Teknologi bergerak sangat cepat membuat suatu hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tetapi ada satu hal yang buat saya heran. Hebatnya teknologi terkadang tidak membuat kita menjadi kreatif. Karena saya percaya, kreatif timbul di dalam keadaan yang terbatas. Apabila kita lihat kondisi sekarang, semua sudah tidak ada batasan, apa yang kita mau sudah tersebar di dunia internet. Jika ditelaah lebih dalam lagi, ternyata memang dulu banyak orang jenius dan pintar. Karena mereka sangat menghargai sebuah perjuangan. Perjuangan dalam menggapai sesuatu. Setelah sampai dititiknya, pasti mereka akan mati-matian mempertahankannya. Sekarang semua sudah berbalik. Terkadang kondisi ini yang buat saya jadi takut.

Negara kita adalah negara yang permissive. Banyak hal yang kita terima dari luar. Bahkan terlalu permissive sampai bingung budaya kita sebenarnya seperti apa. Bahkan sampai tidak tau kita punya budaya seperti apa. Identitas kita sudah mulai kabur dengan personality kita yang terlalu permissive. Akhirnya banyak pengaruh dari luar dan secara tidak sadar membentuk kepribadian kita.

Jika kita bicara soal perempuan atau wanita Indonesia, perempuan Indonesia terkenal dengan kulitnya yang coklat karena kita berada di daerah tropis. Tapi, semua iklan media memperkenalkan produk untuk wanita dengan model yang berkulit putih. Seperti dari Korea dan Amerika yang mana itu sudah merupakan sebuah pengaruh dari luar yang membuat terkontaminasinya pemikiran kita.

Banyak wanita berlomba-lomba untuk menjadi putih seperti mereka orang Korea dan Amerika. Tidak pernah saya melihat iklan dari Indonesia yang memperlihatkan wajah wanita Indonesia dengan kulit coklat. Pasti media menampilkan wanita yang putih atau campuran dari negara lain. Miris.

Mental wanita kita jadi ingin seperti mereka. Tidak putih berarti tidak cantik. Saya juga tanpa sadar seperti itu.

Rasanya ingin sekali mengembalikan identitas kita. Mungkin mulai dari diri saya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s